Menilik Sejarah Batu Hajar Aswad yang Penuh Kemuliaan

Rupanya, sejarah batu Hajar Aswad hingga kini masih menjadi pembahasan menarik. Banyak umat di dunia merasa dibuat takjub dengan sosok batu Hajar Aswad. Itu mengapa kali ini Satu Jua juga ingin membahas batu Hajar Aswad yang diturunkan dari surga satu ini.

Batu Hajar Aswad berbentuk bundar dan berwarna hitam.

sejarah batu hajar aswad
via grid.id

Batu yang berada di sudut Tenggara Ka’bah atau sebelah kiri Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah) ini dulunya berwarna putih seputih susu yang kemudian berubah menjadi hitam karena dosa anak cucu Adam.

Namun, warna hitam batu Hajar Aswad akan kembali menjadi putih berkilau seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Abdullah bin Amr bin As. Jika Allah SWT tidak memadamkan kilauan Hajar Aswad maka tidak akan ada seorang manusia yang sanggup memandangnya.

Batu Hajar Aswad tingginya sekitar 150 cm, melingkar sekitar 30 cm dengan garis tengah yang juga sekitar 30 cm.

Jika dibandingkan dengan wajah manusia, Hajar Aswad dimensinya lebih besar sehingga orang bisa mencium batu ini dengan memasukkan mukanya.

Riwayat oleh A’id bin Jubair r.a dan Ibnu Abbas dari Ubay bin Ka’br r.a menerangkan bahwa Hajar Aswad turun ke dunia setelah dibawa oleh malaikat dari langit, sama seperti yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas. Namun, tidak ada keterangan yang menuliskan siapa yang pertama kali menempatkan Hajar Aswad di Ka’bah.

Batu Hajar Aswad terdiri dari delapan keping batu yang diikat menjadi satu dengan lingkaran perak. Batu hitam ini tampak licin karena sering dicium serta diusap-usap oleh banyak manusia sejak zaman nabi Adam.

Berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bathaqie dan Ibnu Abas RA, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Allah akan membangkitkan batu Hajar Aswad pada hari kiamat.

Batu Hajar Aswad akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar. Di hadist tersebut juga mengatakan bahwa disunatkan untuk membaca doa ketika hendak mengusap batu Hajar Aswad pada permulaan tawad atau setiap kali berputar.

Di kala itu, Nabi Muhammad SAW mengusap batu Hajar Aswad sambil membaca Bismillah Wallahu Akbar, seperti yang diriwayatkan Ibnu Umar r.a.

Ketika Rasulullah berusia 35 tahun, pada tahun 606 M, Ka’bah mengalami kebakaran sehingga harus dibangun kembali.

Ketika pembangunan tersebut sudah selesai, kemudian batu Hajar Aswad akan dikembalikan di tempatnya, namun perselisihan antar kabilah terjadi. Perselisihan dipicu oleh perseturuan siapa yang paling berhak meletakkan batu Hajar Aswad pada tempatnya.

Abu Umayyah bin Mughirah merupakan orang tertua dari suku Makzum, memberikan usul agar yang meletakan batu Hajar Aswad di tempat seharusnya adalah orang yang memasuki pintu Safa keesokan harinya.

Dan ternyata yang mendapatkan giliran saat itu adalah Muhammad yang saat itu belum menjadi Rasul.

Keadilan dan kebijaksanaan Muhammad membawa pada keputusan bahwa Muhammad tidak ingin langsung mengangkat batu Hajar Aswad.

Beliau melepaskan sorbannya di tengah anggota kabilah yang hadir lalu meletakkan batu Hajar Aswad di tengah-tengah sorban.

Beliau meminta perwakilan kabilah yang pada saat itu ikut memegang tepi sorban dan mengangkatnya secara bersamaan ke dekat tempat diletakkannya batu Hajar Aswad.

Kemudian, beliau sendirilah yang meletakkannya ke tempatnya.

Tindakan Muhammad kala itu mendapat penghormatan dari semua kabilah yang saat itu sedang berselisih faham.

Sejarah Batu Hajar Aswad di Masa Abu Al-Wahid bin Muhammad Al-Azraki

sejarag batu Hajar Aswad
via keajaibanislam.wordpress.com

Di sejarah selanjutnya, tepatnya pada masa berikutnya, menurut Abu Al-Wahid Ahmad bin Muhammad Al-Azraki, Abdullah bin Zubari kemudian memasang lingkaran pita perak di sekeliling batu Hajar Aswad sehingga membuat batu Hajar Aswad terlihat berkilau.

Sultan Abdul Majid yang merupakan Khalifah Uthmaniah (1225-1227 H) pada tahun 1268 H memberikan lingkaran emas pada sekeliling batu Hajar Aswad karena lingkaran peraknya telah hilang.

Namun, oleh Sultan Abdul Aziz, Khalifah Uthmaniah (1861-1876 M), menggantinya kembali dengan lingkaran perak.

Selanjutnya pada 1331 H, oleh Sultan Muhammad Rasyad pad atahun 1909-1918 H, lingkaran perak yang sudah lama itu kembudian diganti dengan pita perak yang baru.

Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga keutuhan batu Hajar Aswad.

Sejarah Batu Hajar Aswad saat Zaman Nabi Ibrahim A.S

sejarah batu haja aswad
via syakirawisata.com

Nabi Ibrahim A.S mengajak nabi Ismail A.S yang merupakan puternya sendiri untuk membangun Ka’bah.

Namun, pada saat itu masih banyak kekurangan yang terjadi. Salah satunya adalah Ka’bah tidak memiliki pintu masuk.

Akhirnya Nabi Ibrahim A.S bersama Nabi Ismail A.S mengambil batu dari berbagai gunung namun masih merasa kurang.

Pada akhirnya Nabi Ibrahim A.S memerintahkan Ismail agar mencari batu lagi untuk diletakkan di Ka’bah sebagai penanda bagi manusia.

Nabi Ismail A.S akhirnya pergi mencari batu yang paling baik dan sesuai dari satu bukit ke bukit yang lain.

Pada saat ituah, Malaikat Jibril A.S memberikan kepada Nabi Ismail batu yang sangat cantik. Nabi Ismail A.S dengan segera membawa batu tersebut kepada sang ayah.

Nabi Ibrahim A.S mengaggumi batu tersebut dengan sangat gembira karena sosok batu yang sangat indah. Beliau kemudian menciumnya sambil bertanya kepada Nabi Ismail A.S, “Dari manakah kau mendapatkan batu ini?”

Kemudian Nabi Ismail A.S menceritakan asal muasal batu tersebut kepada sang ayah.

Saat batu hendak diletakkan, Nabi Ibrahim A.S dan puteranya mengangkat batu tersebut sambil memutari Ka’bah sebanyak 7 putaran sebelum meletakkannya pada tempatnya.

Tradisi Mencium Batu Hajar Aswad

sejarah batu Hajar Aswad
via mekkahabaditour.com

Tradisi mencium batu Hajar Aswad dimulai dari riwayat Umar bin Khatab yang menyampaikan bahwa Rasulullah SAW pernah mencium batu Hajar Aswad.

Hal inilah yang diikuti oleh Umar bin Khatab saat umrah. Umar bin Khatab mencium batu Hajar Aswad sambil berkata: “Demi Allah, aku tau bahwa engkau hanya sebongkah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciumnya, niscaya aku tidak akan menciummu.” (Hadist no.228 kitab Sahih Muslim).

Dari sanalah awal sunah mencium Hajar Aswad yang kemudian diikuti oleh kaum muslimin sehingga berebut ingin mencium batu Hajar Aswad.

Bagi kaum muslimin manapun yang sedang menunaikan ibadah haji dan tidak bisa mendekati batu Hajar Aswad, bisa menggantinya dengan gerakan isyarat berupa lambaian tangan.

Hadist Siti Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum kiamat.”

Dari sinilah kemudian jamaah haji senantiasa berusaha untuk mendekati batu Hajar Aswad untuk menciumnya dan membaca doa sebelumnya.

Batu Hajar Aswad yang terletak di salah satu sudut Ka’bah merupakan tanda arah tawaf dimulai dan berakhir.

Rasulullah SAW pernah bersabda seperti yang diriwayatkan oleh Atho: “Bahwa disekitar Hajar Aswad ada 70 Malaikat dan jika seseorang (yang sedang tawaf) berdoa”

Ya Allah berilah aku kebaikan didunia dan akhirat dan jauhkan aku dari siksa api neraka. Maka para malaikat itu akan mengamininya.”

Abu Huirairah pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda:  “Barang siapa yang menyentuhnya, maka sebenarnya ia menyentuh tangan Ar –rahman (tangan Allah)” (HR. Ibnu Majah. Al-Mundziri mengatakan bahwa hadist ini di-Hasankan oelh sebagian ulama Tarmidzi.)

Hal itulah yang membuat Hajar Aswad sangat istimewa bagi kaum muslimin.

Sebuah penelitian yang pernah dilakukan terungkap bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia.

Ajaibnya, batu ini bisa mengambang di atas air.

Konon, sebuah museum di Inggris menyimpan 3 buah potongan batu dari Ka’bah. Pihak museum mengatakan bahwa bongkahan tersebut bukan berasal dari tata surya kita.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Richard Burton membuktikan bahwa Hajar Aswad bukan termasuk batuan yang berasal dari bumi, melainkan batu luar angkasa yang menyerupai meteor karena memiliki komposisi mineral dan kimiawi yang berbeda dari meteor.

Itulah sejarah batu Hajar Aswad yang Penuh Kemuliaan.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.