Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia, Pentingkah untuk Dipelajari?

Satujua.com  “Sebagai penduduk pribumi, apakah penting mempelajari sejarah ejaan bahasa Indonesia?”

Pertanyaan di atas masih sering dibicarakan, terutama di kalangan pelajar Indonesia yang masih mempelajari bahasa Indonesia sebagai pelajaran utama di sekolah.

Jawabannya adalah bersifat boleh dan terserah.

Boleh dikarenakan bahasa Indonesia merupakan bahasa wajib kita sebagai warga negara Indonesia.

Terserah karena sejauh ini tidak ada larangan jika tidak mempelajari sejarah ejaan bahasa Indonesia.

Namun, sangat penting bagi kita sebagai warga Indonesia untuk mempelajari cara menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Karena meskipun menjadi bahasa yang kita gunakan sehari-hari, tetapi bahasa Indonesia memiliki implementasi yang sangat luas.

Ketika salah mengimplementasikan, maka bisa menciptakan kesalahpahaman. Karena nyatanya masih banyak orang Indonesia yang melakukan kesalahan dalam mengimplementasikan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Itu kenapa pelajaran bahasa Indonesia menjadi pelajaran wajib bagi pelajar Indonesia.

Tapi kenapa Satu Jua kali ini membahasa sejarah ejaan bahasa Indonesia?

ejaan bahasa Indonesia
ejaan bahasa Indonesia

Karena bagi Satu Jua, mempelajari sejarah apapun pada dasarnya sangat penting, terutama sejarah yang melekat di kehidupan kita.

Contohnya seperti sejarah Indonesia merdeka. Jika kita tidak tahu sejarah bangsa kita, akankah kita mengetahui asal muasal bangsa kita? Tentu tidak!

Jika kita tidak mengetahui seperti apa perjuangan kemerdekaan Indonesia, maka kita juga tidak akan pernah mengetahui betapa besarnya jasa pahlawan saat berjuang demi Indonesia.

Itu sama halnya dengan kita mempelajari sejarah ejaan bahasa Indonesia, artinya mempelajari beradaban bahasa Indonesia dan negara Indonesia.

Kita sebagai warga Indonesia akan mengetahui dan memahami akan pentingngnya kisah-kisah penggunaan bahasa Indonesia di masa lalu sehingga kita menjadi tahu asal-usul bahasa Indonesia yang kita gunakan sehari-hari.

Melalui sejarah ejaan bahasa Indonesia, kita bisa mengetahui peristiwa penting di masa lalu saat menentukan setiap ejaan pada bahasa Indonesia yang sangat berpengaruh bagi kehidupan di masa sekarang.

Mari langsung membahas sejarah bahasa Indonesia.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2015, Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) berlaku sejak tahun 2015 yang mengatur mengenai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.

Sebelum diberlakukannya EBI tahun 2015 tersebut, sebelumnya telah berlaku beberapa jenis ejaan yaitu:

1. Ejaan Van Ophuijsen

ejaan bahasa Indonesia
Ejaan Van Ophuijsen

Ejaan yang pertama kali digunakan di Indonesia adalah Ejaan Van Ophuijsen. Ejaan ini digunakan pertama kali pada 1901 yang dirancang oleh orang Belanda yang bernama Charles Van Ophusyen.

Namun, Charles Van Ophuijsen tidak bekerja sendirian tetapi juga dibantu juga oleh Tengku Nawawi yang bergelar Soetan Ma’moer dan M. Taib Soetan Ibrahim. Bunyi ejaan ini mirip dengan tuturan bahasa Belanda dan menggunakan huruf latin.

Ejaan ini pada awalnya digunakan untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa melayu menggunakan model yang bisa dipahami oleh orang Belanda.

Maka disepakati bahwa ejaan ini menggunakan huruf latin dan pelafalannya mirip dengan bahasa Belanda yaitu:

  • huruf ‘j’ untuk menuliskan bunyi ‘y’ pada pelafalan bahasa Belanda, seperti pada kata sajang, jang, pajah.
  • huruf ‘oe’ untuk menuliskan bunyi ‘u’ pada pelafalan bahasa Belanda, seperti pada kata-kata goeroe, oemoer, itoe (kecuali diftong ‘au’ tetap ditulis ‘au’).
  • tanda diakritik seperti yang terdapat dalam tanda koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan bunyi hamzah, seperti pada kata-kata ma’moer, ‘akal,pa’, ta’ dan dinamaï.

Beberapa jenis huruf yang kemudian dimunculkan agar sesuai dengan bahasa Belanda diantaranya adalah ä, ë, ï dan ö, yang menandai bahwa huruf tersebut dibaca sebagai satu suku kata dan bukan dianggap sebagai diftong. Hal ini sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.

2. Ejaan Republik/Ejaan Soewandi

ejaan bahasa Indonesia
Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi

Pengganti ejaan tahun 1901 mulai berlaku pada 17 Maret 1947. Ejaan ini dikenal sebagai ejaan Soewandi yang menjadi ejaan pertama yang disusun sendiri oleh orang Indonesia.

Ejaan ini disebut sebagai ejaan republika atau Soewandi karena pembuatannya dipimpin oleh menter Pendidikan dan Kebudaayaan kala itu.

Perubahan yang mendasar dari ejaan Soewandi dengan ejaan Van Ophuysen adalah:

  • Huruf oe diganti dengan huruf u.

Contohnya, penulisannya ‘padoe’ pada ejaan Van Ophuysen kemudian dirubah dalam ejaan Republik penulisannya menjadi ‘padu’.

  • Huruf hamzah yang berbunyi sentak ditulis menggunakan huruf K.

Contoh perubahannya seperti maklum, pak, tak, rakjat.

  • Kata ulang pada ejaan Soewandi boleh ditulis dengan angka 2

Contohnya: kupu2, layang2.

  • Perubahan lainnya yaitu awalan “di” dan kata depan “di” ditulis melekat dengan kata yang mendampinginya. Kata depan ‘di’ pada contoh dirumah, dipasar, tidak dibedakan dengan imbuhan ‘di-‘ pada dibeli, dipikul.

3. Ejaan Melindo

ejaan bahasa Indonesia
Ejaan Melindo

Ejaan Melindo mulai dirumuskan oleh pemerintah Indonesia pada akhir tahun 1959. Slamet Mulyana-Syeh Nasir bin Ismail lah yang menjadi Perwakilan dari Indonesia dan Melayu dalam menghasilkan konsep ejaan bersama yaitu Ejaan Melindo.

Ejaan tersebut kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik yang tidak kondusif setelah tahun 1959 membuat peresmian ejaan tersebut diurungkan

4. Ejaan yang Disempurnakan (EyD)

Ejaan ini memiliki umur yang lebih lama masa penggunaannya dari ejaan-ejaan resmi sebelumnya.

Sejak 23 Mei 1972 hingga 2015, negara Indonesia dan Malaysia mengirimkan masing-masing wakilnya yaitu menteri pendidikan untuk membahas bersama ejaan yang baru.

Dari sini, kemudian lahirlah Ejaan yang Disempurnakan yang oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia pada 12 Oktober 1972.

Pemberlakukan Ejaan yang Disempurnakan berkekuatan hukum setelah ditetapakn sebagai keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0196/U/1975 bersamaan dengan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

Lembaga Bahasa dan Kesussastraan Indonesia sebelumnya telah meresmikan Ejaan Baru (Ejaan LBK) pada tahun 1967. Ejaan Baru merupakan kelanjutan dari usaha pembuatan ejaan yang sebelumnya dirintis oleh Ejaan Melindo.

Seperti halnya EyD, Ejaan Baru juga dikerjakan oleh dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia. Panitia Ejaan Baru bekerja atas dasar surat keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan No. 062/67, tanggal 19 September 1967.

Ejaan yang Disempurnakan merupakan istilah yang dipakai di Indonesia, sedangkan di Malaysia disebut dengan Ejaan Rumi Bersama.

Dalam perkembangannya EyD pernah mengalami revisi dua kali yaitu pada tahun 1987 dan 2009.

Beberapa perubahan yang ditetapkan di dalam EyD yang telah direvisi yaitu:

  • Huruf f, v, dan z diakui sebagai unsur serapan dari bahasa asing penggunaannya diatur secara resmi.
  • Perubahan selanjutnya yaitu pada huruf seperti q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan ditetapkan untuk dapat terus digunakan seperti pada kata furqan, dan xenon.
  • Perubahan pada ketentuan penulisan awalan “di-” dan kata depan “di” dibedakan penulisannya. Kata depan yang menunjukkan tempat yaitu “di” pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara “di-” pada kata yang menunjukkan kalimat pasif seperti dibeli atau dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
  • Kata ulang ditulis secara penuh dengan mengulang unsur-unsurnya, sehingga tidak boleh lagi ditulis menggunakan angka dua sebagai penanda perulangan.

Secara umum, hal-hal yang diatur dalam Ejaan yang Disempurnakan adalah:

  • Tata cara penulisan huruf, termasuk huruf kapital dan huruf miring.
  • Tata cara penulisan tanda baca.
  • Tata cara penulisan unsur serapan.
  • Tata cara penulisan kata.
  • Tata cara penulisan singkatan dan akronim.
  • Tata cara penulisan angka dan lambang bilangan

5. Ejaan Bahasa Indonesia (EBI)

Ejaan Bahasa Indonesia
via tokopedia

Perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan EyD adalah:

  • Penambahan huruf 3 vokal diftong. Huruf diftong pada EyD yang berlaku yaitu ai, oi, au, namun pada EBI, penambahan huruf diftong hanya satu yaitu ei (misalnya pada kata geiser dan survei).
  • Pengaturan tata cara penggunaan huruf tebal. Penggunaan 3 fungsi huruf tebal pada EyD digunakan untuk menulis judul buku, bab, sub bab dan semacamnya, mengkhususkan penulisan huruf, serta menulis lema atau sublema dalam kamus. Dalam EBI, fungsi lema dan sublema dalam kamus dihapus.

 

Itulah sejarah ejaan bahasa Indonesia. Sekedar mengingatkan, untuk pedoman EYD terbaru bisa kamu buka di http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/permendikbud%20nomor%2050%20tahun%202015.pdf

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.